Sabtu, 25 Oktober 2014

"Bergandengan Tangan", Mesranya Jokowi dan Kerry di Istana Merdeka

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry berkunjung ke Indonesia pekan lalu. Kunjungannya itu merupakan undangan kenegaraan dalam rangka pelantikan Joko Widodo sebagai Presiden ketujuh RI.
Kerry berada di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/10/2014) sekitar pukul 20.00 WIB. Kunjungan Kerry ke Istana Merdeka dilakukan setelah Jokowi menerima kunjungan Perdana Menteri Australia Tony Abbott. Kerry sebelumnya hadir dalam pelantikan Jokowi di Gedung MPR.
Saat menerima Kerry, Jokowi mengenakan batik coklat lengan panjang. Pakaian ini juga dikenakan orang nomor satu di Indonesia itu ketika menerima Abbott. Sedangkan Kerry mengenakan setelan jas lengkap. Motif batik betawi
Kerry tiba dengan dikawal pengawal dan stafnya. Setibanya di Istana Merdeka, Kerry langsung menyalami Jokowi dan berfoto bersama. Tak lama kemudian, keduanya masuk mengikuti pertemuan tertutup. Jokowi tampak didampingi Ketua Tim Transisi Jokowi-Jusuf Kalla Rini Soemarno dan Deputi Tim Transisi Andi Widjajanto.
Meski begitu, tidak ada kesepakatan atau komitmen yang disepakati dua tokoh ini, mungkin karena memang belum ada menteri yang mendampingi Jokowi, atau juga karena kunjungan itu sebatas undangan untuk menghormati pelantikan Jokowi semata.
Di luar itu semua, ada momen yang "ganjil" dari jepretan foto oleh fotografer Tribunnews.com, Dany Permana. Ketika Kerry bersama Jokowi berjalan bersama di Istana Merdeka, Denny mengabadikan kedua tokoh tersebut dari sudut sebelah kanan mereka.
Alhasil, Jokowi yang ketika itu membungkukkan badan sembari tertawa dengan mata terpejam terlihat sedang "bergandengan tangan" dengan Kerry. Sementara Kerry masih tegak sembari melempar senyuman ke Jokowi.
Jika dilihat dengan mata teliti, Jokowi sebenarnya tidak sedang merangkul pergelangan tangan Kerry, lantaran sudut gambar yang diambil atau angle fotografilah membuat kondisi Jokowi yang menggandeng Kerry secara sepintas.

Rabu, 08 Oktober 2014

INI ALASAN WARISAN BUDAYA INDONESIA SELALU DIKLAIM MALAYSIA

Seringkali negara jiran Malaysia mengklaim warisan budaya Indonesia menjadi miliknya. Salah satu alasan klaim dilakukan negara lain karena pemerintah Indonesia rendah melakukan pencatatan warisan budaya benda dan warisan budaya tak benda.  

Arkeolog UI Supraktino Rahardjo menyarankan perlunya melakukan pencatatan warisan budaya benda dan warisan budaya tak benda.

"Pencatatankan itu akan menjamin itu memang punya kita. Jadi kalau pencatatan yang penting ada catatannya ada dokumennya gambarnya, nomor segala macam. Ini terutama untuk cagar budaya yang benda,"kata Supratikno dalam Sosialisasi Pencatatan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia di Jakarta, Jum'at (23/11).

Supratikno juga menyoroti sistem kearsipan untuk pencatatan warisan budaya Indonesia yang masih belum baik. 

"Saya kira mungkin kita pernah mencatat tapi kita tidak bagus dalam kearsipan. Itu yang menjadi tantangan kita, pengarsipan kita lemah sekali,"jelasnya. Toko baju batik betawi

"Tidak ada mekanisme kalau terjadi perubahan-peruibahan institusional terhadap barang ini, ini kan kekayaan yang sudah dirawat segala macam dan itu bisa hilang begitu saja, terus kita mulai dari awal lagi, kita menghabisakan waktu, energi dan uang. Sebenarnya kita bisa lebih baik dari pada itu,"tambahnyaa. 

Selain itu, pemerintah juga harus melakukan pencatatan warisan kuliner Indonesia. Agar sejarah ragam masakan asli Indonesia mempunyai dokumen.  

"Kalau kita tidak punya dokumen tentang itu bagaimana kita yakin itu punya kita bahwa kita itu peduli. Kalau misalnya dulu batik, reog segala macam diklaim ini karena kita tidak punya dokumennya. Sekarang bagaimana orang kita pindah ke negara lain, ini masalah lagi kan. Ini semacam warisan bersama jadinya. Hal-hal ini harus diatasi, itulah pekerjaan pemerintah untuk mengatasi persoalan-persoalan seperti ini,