Minggu, 17 Mei 2015

Mencintai Indonesia Melalui Kain Tradisional


Indonesia memiliki ragam kebudayaan, yang salah satunya adalah kain tradisional. Melalui motif di kain-kain tradisional, kita bisa belajar mencintai Indonesia.

Minggu (26/4/2015) sore rumah bergaya betawi milik BI Heritage di Jalan Prapatan, Jakarta Pusat ramai dikunjungi orang-orang. Seluruh bagian rumah dihiasi dengan puluhan lembar kain nusantara dengan berbagai corak. Mulai dari batik bermotif kawung, songket, rangrang, hingga kain sutra sengkang, Sulawesi Selatan dipajang dan membuat ruangan lebih berwarna.

Indonesia memang dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan corak kain terbanyak di dunia. Jumlahnya bisa ribuan mulai corak kain asal Aceh hingga Papua. Setiap kain bak lukisan yang memiliki cerita, ciri khas dan pesan yang ingin disampaikan pembuatnya pada orang-orang. Kain-kain ini juga sangat beragam dan mewakili daerah asalnya. Jual Kain Batik Betawi

Jika dulu kain tradisional dinilai kuno dan ketinggalan zaman, kini citra kain tradisional dibuat sebagai identitas seorang warga Indonesia.

"Berkain harus menjadi identitas bangsa. Berkain akan menguatkan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia supaya kita tidak kalah dengan Malaysia dan India. Mereka sudah melekatkan identitas sejak dulu. Dengan berkain akan lebih kelihatan," kata Ketua Komunitas Berkain Indonesia, Sita Hany Mastuti saat berbincang dengan detikcom usai acara Woman Inspiring 2015 yang diadakan oleh Lions Club Indonesia.

Melalui komunitas ini, Sita ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai Indonesia melalui kain tradisional. Berkain sendiri adalah menggunakan kain tradisional dalam berbagai kegiatan. Tak hanya sekedar di acara resepsi pernikahan atau acara resmi lainnya namun juga ke mal.

Harapannya sederhana, ia ingin agar masyarakat tak lagi kaku melihat kain di tempat-tempat publik dalam suasana santai. Kesan tua pun ingin ia tanggalkan.

"Bagus tidaknya kain sangat tergantung pada selera berbusana dan cara seseorang memadu padankan kainnya dengan atasannya. Bisa dengan kemeja biasa, baju kaos atau blazer," ucap ibu 1 anak ini.

KCB ini memang menggiatkan kecintaan pada kain tradisional pada seluruh kalangan. Berkaca pada pengalaman pribadinya saat kecil, Sita menjelaskan ia sengaja menggaet ibu-ibu untuk menjadi anggota forum ini dengan harapan dapat menularkan cinta berkain pada anak-anaknya.

Ia senang generasi muda saat ini sudah mulai menunjukkan ketertarikannya pada kain tradisional Indonesia. Dengan adaptasi sesuai perkembangan mode, kain-kain tradisional menjadi semakin elok dan akan membuat mereka 'kecanduan' dan mencari tahu lebih banyak soal hasil tenun nusantara.

"‎Anak muda kan lebih banyak bergerak sehingga akan lebih banyak terekspose dan modifikasi. Silakan bereksperimen. Mau dibuat dan dibentuk model rok mini atau model lainnya, silahkan. Pakai dulu, nanti perlahan akan mecintai dan mencari tahu soal kain," sambungnya.

Menurut mantan arsitek ini, corak kain bak lukisan yang menyampaikan pesan hati sang pembuat. Karena itu, ia tak heran jika banyak orang yang mengatakan banyak kain yang membantu seseorang mengeluarkan aura positifnya. Waktu pengerjaannya pun lama, ada yang 2 bulan hingga 1 tahun.

Ia ingin masyarakat Indonesia bersama-sama menjaga kelestarian kain nusantara. ‎Soal harga yang mahal, menurutnya mengoleksi kain tradisional bisa menjadi investasi. Ia memberi contoh kain batik sogan Solo yang dipakainya malam itu. Batik itu dibelinya di Yogyakarta dengan harga Rp 17.000 di tahun 1985. Kain yang bercerita soal kekayaan laut itu jika dijual kini harganya bisa mencapai Rp 5 juta. Alasannya, karena termasuk batik lawasan yang sudah lama dengan bahan dasar sutera.

Adanya kain-kain bermotif batik buatan Tiongkok dengan harga murah dinilai benar-benar mengancam keberlangsungan hidup penenun. Tidak akan bertahan jika seluruh kalangan bersama-sama tidak memberi 'pasar' untuk produk mereka. Penenun kain tradisional disebutnya semakin berkurang menyusul semakin menyusutnya pangsa pasar mereka.

Sabtu, 21 Maret 2015

Yang Unik di Pameran Adiwastra Nusantara, Dasi Kayu Hingga Tas Jenaka


Bagi Anda yang sedang berada di kawasan ‎Gatot Subroto, Jakarta Pusat, tidak ada salahnya menyempatkan mampir ke Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat. Sejak Rabu (11/3/2015) hingga Minggu (15/3/2015), tengah diadakan pameran kain tahunan Adiwastra Nusantara. Dalam acara yang sudah diadakan 10 kali tersebut, Anda bisa menemukan wastra atau kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Solo, Cirebon, Bali, Nusa Tenggara, Lampung, Pontianak, Banjarmasin, dan sebagainya. 

Selain bisa berburu wastra dengan ‎harga dan motif yang variatif, di sini Anda juga dapat menemukan produk kerajinan tangan khas Tanah Air. Untuk melengkapi tampilan Anda, tersedia sejumlah tenant yang menawarkan perhiasan bernuansa etnik. Ada pula sejumlah tas yang dihadirkan dengan material batik atau tenun. 

Di Adiswastra Nusantara 2015, Anda juga dapat mencari barang-barang tradisional yang unik. Misalnya saja, sebuah dasi batik dari Datie Handicraft. Yang membuat item itu tidak biasa adalah materialnya yang terbuat dari kayu. Jangan berpikir benda tersebut akan kaku, dasi itu dibuat patah-patah sehingga lentur seperti kain. Menurut Adi, staf yang menjagabooth, dasi yang sekilas terlihat seperti pajangan itu cukup banyak peminatnya.

"Ini dasi betulan. Kalau mau dijadikan pajangan ya terserah juga sih. Lumayan banyak yang pakai," ungkap Adi ketika ditemui Wolipop, Rabu (11/3/2015) di pameran Adiwastra Nusantara, JCC, Jakarta Pusat.

Dasi kayu seharga Rp 200 ribu tersebut ditawarkan dengan dua motif batik. Menurut Adi, model tersebut diciptakan sebagai bentuk kreativitas agar dasi berkesan unik. Selain itu, peserta pameran yang memiliki toko di Tanah Kusir ini juga menjual beragam kerajinan menarik lain, misalnya saja tas serta clutch anyam berbahan rotan berhias rumah kerang hingga plat berbentuk ayam seharga Rp 250 ribu sampai Rp 650 ribuan. Lalu ada wayang berwujud karakter Batik Betawi yang dijual Rp 350 ribuan. 

Saat ini, batik memang tak hanya dihadirkan dalam kain saja. Teknik lukis khas Jawa itu juga diaplikasikan ke dalam berbagai ‎produk. Selain dasi kayu, di pameran ini juga tersedia sebuah pouch handphone unik dari batik tulis. Yang membuatnya spesial, dompet-dompet kecil asal Galeri Batik Tissa tersebut memuat tulisan-tulisan jenaka serta kritis.

Misalnya saja salah satu pouch atau tas kecil bergambar burung yang menceritakan tentanghandphone yang jatuh ke WC. Kemudian di belakang pouch terdapat tulisan berbunyi 'Awas Hape Jatuh'. Atau bungkus handphone yang menggambarkan pemandangan laut dan bertuliskan 'Keep The Ocean Clean'. Lalu ada juga pouch lain yang bertuliskan 'Waspada Hindari Musibah Hape-hapean'. Umumnya dibanderol seharga Rp 110 ribuan. 

Sayangnya, staf yang menjaga ‎kurang mengetahui maksud di balik tulisan jenaka dompet-dompet tersebut. Menurutnya, produk-produk batik tulis di galeri ini memang dihadirkan unik karena didesain sendiri. Selain pouch, motif kain batik yang disediakan juga cukup menarik, seperti bergambar wanita Jawa serta wanita Jepang. Kain-kain Galeri Batik Tissa dijual dengan harga Rp 150 ribu hingga 15 juta.